2016



Bagi kalian yang sudah sering download anime dari berbagai fansub yang bertebaran di internet, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah subtitle atau takarir, dan pasti pertanyaan seperti ini pernah terlintas di benak anda (mungkin ^_^) “Bagaimana yah caranya membuat subtitle?”. Beberapa dari kalian mungkin menganggap bahwa membuat project anime dengan subtitle Indonesia sederhana karena cuman translate doang, tapi kenyataannya tidak sesederhana yang kalian bayangkan, karena ada beberapa tahapan yang harus anda lakukan, tapi sebenarnya kalau kalian sudah ahli, mungkin akan terasa sederhana karena sudah hafal prosesnya dan mengerti.

Kali ini admin eighteen shared akan bahas dan share sedikit ilmu yang admin dapat dari para admin fansub yang sudah pasti sudah sangat anda kenal dan pastinya sudah punya visitor dan pengkoleksi hasil karya fansub mereka seperti TiramiSubs, Moesubs dan AWSubs. Yah meskipun saya sendiri cuman belajar dasar-dasarnya saja dan cuman modal tanya doang di forum-forum maupun chat pribadi dengan mereka yang sudah ahli, jadi maklum saja ya kalau penjelasan yang saya berikan ini nantinya hanya kulit luarnya saja dari dunia Subtitling, karena saya sendiri masih sangat awam dan masih belajar memperdalam juga. Nah penjelasan saya kali ini akan di sponsori oleh hasil konseling saya dan bacaan dari E-Book yang dibuat khusus oleh chiira admin fansub TiramiSubs, yang menurut saya sudah sangat lengkap dan sangat jelas bahkan untuk yang baru mulai belajar Subtitling, dan sisanya dari penjelasan saya akan didasari oleh pengalaman saya yang sangat terbatas (maklum saja ya kalau kurang bagus).

Perlu diingat yang akan saya jelaskan disini cuman fokus pada proses encoding saja (cuman MeGUI dan tidak akan saya bahas soal T x264) itupun mungkin tidak lebih dari kulit luarnya aja, sedangkan untuk bagian subtitling dan finishing hanya akan saya beri penjelasan umum saja, jadi sisanya baca di E-Book yang dibuat khusus oleh chiira admin fansub TiramiSubs.
 
Sebagai pembuka mungkin saya bahas sedikit mengenai hal yang menurut saya paling mendasar dari dunia Subtitling ini (apaan sih?). Jawabannya ialah pengertian dari subtitling, nah pengertian ini saya kutip langsung aja dari e-book mbak chiira.
 
“Subtitle adalah teks bantuan berbahasa lokal untuk membantu penonton yang tidak mengerti bahasa yang digunakan dalam film atau media yang ia tonton. Subtitle terpacu oleh audio. Jika audio bahasa Inggris dan penonton tidak mengerti bahasa Inggris, maka subtitle bahasa lokal diperlukan. Bahasa lokal kita adalah bahasa Indonesia.”
 
Nah poin kedua yang tidak kalah pentingnya sebelum masuk ke penjelasan ialah waktu luang anda (loh kenapa?), mungkin sederhananya bisa saya bilang kalau proses dalam membuat satu project subtitling anime (yang saya maksud disini ialah anime dengan durasi rata-rata 24 menit) yang sudah lengkap dengan subtitile dan atribut lainnya semisal seperti typesetting, efek karaoke, dll, sangat memerlukan waktu luang yang lumayan lama khususnya bagi para pemula (termasuk saya ^_^). Hal ini dikarenakan setiap prosesnya memiliki proses yang lumayan panjang dan harus dilakukan bertahap, nah yang sering download anime dari fansub pasti pernah atau bahkan sering lihat deretan staf yang mengerjakan satu anime saja bisa 5 sampai 8 orang (yah meskipun juga ada yang cuman satu orang staf menangani satu project anime tapi pastinya mereka sudah ahli), dari beberapa orang tersebut biasanya tugas dibagi-bagi sesuai keahlian mereka seperti ada yang bagian penerjemah, encoder, typesetting, karaoke efek, TLC, dll (maaf tidak saya sebutkan dan jelaskan semuanya karena kita akan focus ke materinya aja  ). Selain waktu luang yang telah saya paparkan diatas ada beberapa hal yang tidak kalah pentingnya seperti kesabaran dan ketelitian. Oh ya sebagai tambahan jangan malu untuk bertanya, karena dengan bertanya mungkin akan sedikit membantu anda dalam menyelesaikan masalah jika ada hal yang kurang kalian mengerti. Oke langsung saja kita masuk ke inti postingan kita kali ini, dan penjelasan akan saya bagi dalam beberapa tahap.

Tahap I Preparing (Persiapan)
Tahap awal sudah pasti ialah tahap mempersiapkan, nah yang harus kalian persiapkan ialah dengan komposisi sebagai berikut:
1. Alat
a. HardwareIni merupakan hal penentu anda dalam membuat proyek anime, maka dari itu saran saya dalam membuat proect anime ini anda harus menggunakan PC (bukan laptop atau notebook loh), mungkin banyak yang bertanya “lah kenapa?”, hal ini dikarenakan pada proses membuat project anime membutuhkan beberapa software, dan ada baiknya anda installkan pada PC anda ketimbang pada laptop atau notebook anda. Dimana pada proses encoding nantinya yang paling mempengaruhi dimana kita harus menggunakan PC, karena kalau laptop atau notebook pastinya akan error pada beberapa frame gambar. Yah meskipun ad acara tersendiri sih yang bisa membuat kita menggunakan laptop dalam proses encoding yang dijelaskan di e-book nya mbak chiira. Tapi tetap sekali lagi saya sarankan untuk menggunakan PC karena dalam membuat project anime yang terlalu sering akan membebani kera PC anda (bahkan sampai mengurangi umur PC anda), dan coba bayangkan jika anda menggunakan laptop atau notebook (pastinya lebih parah lagi). Untuk spesifikasi PC mungkin saya sesuaikan dengan PC yang saya pake aja, dengan OS windows 7 64 bit atau windows 7 32 bit (Sesuaikan PC agan), RAM 4 GB (recommended), bisa juga RAM 2 GB (tapi mungkin kurang maksimal) dan buat alat pendukung nya usahakan ruangan anda punya sirkulasi udara yang baik atau bisa gunakan kipas angina atau AC agar CPU gak kepanasan karena proses yang akan banyak kita lakukan nantinya.
 
b. SoftwareKegiatan subtitle adalah kegiatan yang membutuhkan komputer dan membutuhkan beberapa software yang mendukung untuk pembuatan subtitle. Berikut adalah daftar software yang harus kamu install: 
  • CCCP (http://www.cccp-project.net/) atau KCP (http://haruhichan.com/forum/showthread.php?7545-KCP-Kawaii-Codec-Pack). Mereka berdua adalah software codec yang membantu dalam memutar anime bersubtitle dan encoding hardsub. Juga sangat berguna untuk memutar anime dengan Kara Effect di dalamnya. Kamu harus install salah satu aja, enggak boleh dua-duanya.
  • MeGUI (http://goo.gl/KZaixB) atau Tx264 (http://goo.gl/NsQZD8). Mereka berdua software untuk encoding. Apa itu encoding? Tunggu BAB selanjutnya. Kalau ini, kamu boleh install dua-duanya. - Nero AAC (http://goo.gl/P7qjat). Ini adalah software support yang nanti akan ditanam di MeGUI atau TX264. Ia bertugas untuk encode audio AAC.
  • AviSynth (http://goo.gl/YfZsvy). Ia pasangannya MeGUI dan berguna untuk hardsub encoding. Download aja, soalnya nanti kita bakal praktek encode pakai MeGUI juga. - Aegisub. Ini adalah software utama. Aegisub adalah software yang memudahkan kamu untuk membuat subtitle. Demi menghindari adanya kesalahan, mending kamu install Aegisub dengan versi yang sama dengan versi saya. Download Aegisub 3.1.3 (http://goo.gl/ayNGES) atau bagi kamu yang komputernya 64bit, download di (http://goo.gl/i7gjwk). Cara cek komputer kamu 32bit atau 64bit adalah dengan menekan tombol START + PAUSE pada keyboard. 
  • MKVMerge (http://www.fosshub.com/MKVToolNix.html). Software ini berguna untuk menggabungkan subtitle dengan anime. Download windows installer yang sesuai dengan komputer kamu (32bit atau 64bit). 
  • Anime Checker (http://animechecker.sourceforge.net/). Software ini berguna untuk memberi dan mengecek CRC pada anime. Nanti akan dibahas di BAB Finishing.

2. Bahan

Bahan-bahan yang kita gunakan kali ini tidak kalah pentingnya dengan deretan softaware diatas bahkan sebetulnya bahan ini ialah yang utama karena kalau tidak ada yah project subtitling anime anda pasti akan terkendala. Oh iya pada poin kedua dan ketiga sebenarnya ngga terlalu penting buat yang masih baru belajar, jadi abaikan saja, namun jika anda ingin serius maka ikuti saja.
  • Contoh file video, saran saya lebih baik memulai dengan anime dengan durasi yang pendek seperti anime yang durasi 5 sampai 10 menitan, kala nekat mau yang 24 menit atau anime movie dengan durasi 2 jam juga nda apa-apa asalkan anda serius dan benar-benar punya waktu luang karena pasti akan terasa sendiri kalo pas prosesnya. 
  • Kamus buat nerjemahain kalimat yang sangat sulit anda pahami, ingat loh cuman kalimat tertentu aja, karena kalau semuanya nanti gak karuan hasilnya, intinya anda harus ahli dalam nerjemahin minimal dari Bahasa Inggris ke Indonesia, kalau bisa nerjemahin RAW asli jepang juga malah lebih baik.
  • Literature, yang saya maksudkan ialah bahan materi jalan cerita dari anime yang anda garap, misal seperti bahan dari visual novel, light novel, ataupun manganya (komik), dari pengalaman anda membaca atau memainkan gamenya (khusus bagi anime yang di adaptasi dari game) minimal anda mengetahui beberapa istilah atau informasi yang melekat khusus pada anime yang anda garap.

Tahap II Encoding
Mengutip e-book nya mbak chiira lagi “Encoding dalam media video adalah proses mengubah file video ke format lain. Tak hanya format lain, encoding juga bisa dikatakan proses pengecilan video. Video di sini juga termasuk audio juga. Encoding bertujuan untuk mengubah ukuran, proporsi dan rasio dari suatu video.” Disini saya tidak akan menjelaskan encoding dengan Tx264 dan lebih mengarah ke Encoding MeGUI.

1. Klik tombol video input untuk menambahkan file RAW anime yang anda ingin garap.

 
2. Setelah itu pada dialog box pilih/klik DirectShowSource, dan di arahkan pada jendela preview (close aja), selanjutnya pada bagian Video Input bakal keisi alamat video tadi.
 






3. Di bagian Crop & Resize, untuk format video 480p, beri centang trus isi 848 dan 480 (untuk format standar anime), klau format yang lain bisa pake, 1280x720 atau 1920x1080 untuk kualitas yang tinggi.

 




4. Di bagian Filters, beri centang Source is Anime. Terus Resize Filter pilih Bicubic (Sharp). Trus beri centang juga Noise Filter dengan pilihan Minimal Noise. Kalau udah semua, klik Save untuk menyimpan skrip AVS. Setelah itu akan muncul jendela preview (close aja).
 

 
5. Pada tab input bagian Encoder Settings, pilih x264 *scratchpad*. 



6. Klik Config untuk menuju ke settingan. Encoding Mode pilih ke Targetting Quality dan isi Quality-nya 22.0. Tuning pilih Animation. Beri centang Enable 10- bits Encoding karena kita akan encode ke 10bit. Enggak Cuma Tx264, MeGUI juga bisa menyimpan settingan kita. Klik New dan ketik nama preset kita. Kalau udah, klik OK sampai kotak x264 configuration dialog tertutup.

 


7. Pada bagian Audio > Audio Input, klik tombol … dan buka videonya. Soalnya MeGUI masukin audionya manual. Nanti bagian Audio Input bakal terisi alamat videonya. 




8. Di bagian Encoder Setting, pilih Nero AAC: NDAAC- HE-Multichannel-128kbps. Lalu klik tombol Config.


9. Preferred Decoder pilih NicAudio. Sisanya biarin Keep Original aja. Hapus centang di Normalize Peaks. Terus abis itu pilih Variable Bitrate dan set ke 0.5. AAC Profile biarin aja HE-AAC. Kalau mau simpan settingan kita klik New. Klik OK sampai kotak dialog konfigurasinya ilang.   



10 Kalau semuanya udah terkonfigurasi, klik tombol AutoEncode.


11. Pada bagian Container pilih format MKV. Bagian Name of output, biarin default aja. Bagian Size dan Bitrate pilih No Target. Kalau mau tentuin file size akhir, pilih Average Bitrate. Nanti perkiraannya bakal keluar di Video Size. Lalu, klik Queue untuk mulai encode. Biasanya akan muncul dialog box, trus klik yes karena settingan awal kita encode ke 10bit.


12. tunggu hingga proses encode selesai







 

Tahap III SubtitlingPada tahap ke tiga ini ialah tahap yang lumayan amat sangat panjang, dan bisa saya bilang butuh perhatian khusus dan tingkat konsentrasi serta kesabaran yang tinggi, karena pada tahap ini terdapat beberapa langkah seperti input subtitle, styling subtitle, timing, typesetting (nerjemahin tulisan yg sudah ada pada anime misal pada hp, buku, papan, dll), dan efek karaoke (pada opening, ending atau bahkan pada main chapter jika ada lagu). Karena proses tahapan yang panjang tersebut, menurut saya cocoknya anda harus baca e-book yang di buat oleh mbak chiira TiramiSubs, untuk selengkapnya klik link tautan di bawah atau bisa kunungi link web nya langsung supaya bisa langsung tanya-tanya juga kalau bingung

Tahap IV Finishing
Pada tahap ini ialah bisa dibilang tahap akhir dari pengerjaan proyek anime sebelum anda publikasikan, dan bisanya hanya diberi sentuhan akhir agar semuanya komplit untuk di packing jadi satu garapan utuh, pada tahap ini terdiri dari:
  • Menambahkan chapter (seperti epilog, prolog, story, opening, ending, chapter 1, bagian awal, bagian akhir, bagian inti, judul, dll) 
  • Muxing (proses pencampuran video/audio, subtitle, attachment dan chapter) 
  • Memberi kode CRC32 (if you need, biasanya digunakan sebagai penamaan file pada bagian akhir dan fungsinya sebagai kode acuan dalam menjaga isi file).

Oke itulah penjelasan singkat mengenai cara membuat project anime garapan sendiri dengan mudah, oh iya pada tahap III dan IV sengaja tidak saya jelaskan tahapan-tahapannya disini disamping karena proses yang sangat panjang juga saya gak tau mau mulai jelasin dari mana. Jadi karena saya juga membuat postingan ini mengacu pada e-book yang di buat oleh mbak chiira TiramiSubs, dan kebetulan saya belajar banyak dari beliau yang menurut saya mbak chiira sudah sangat ahli.
 
Bagi yang ingin download E-book yang di buat oleh mbak chiira TiramiSubs, silahkan klik gambar dibawah.


Subtitling Itu Seru





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat merupakan factor penentu utama yang mempengaruhi keotentikan data yang diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan maka semakin baik pula hasil pengukuran yang akan didapat. Demikian pula halnya dengan kemampuan pengamat dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka semakin baik pula data yang dikumpulkan.
Pengukuran diameter pohon dengan menggunakan beberapa alat yang berbeda akan menghasilkan data yang berbeda pula. Dengan demikian, perbedaan relatif dari keakuratan data yang diperoleh diantara alat yang berbeda akan terlihat. Sehingga dapat diketahui pula kelebihan dan kelemahan suatu alat tertentu. Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas.
Batang merupakan bagian utama pohon dan menjadi penghubung utama antara bagian akar, sebagai pengumpul air dan mineral, dan bagian tajuk pohon (canopy), sebagai pusat pengolahan masukan energi (produksi gula dan bereproduksi). Cabang adalah juga batang, tetapi berukuran lebih kecil dari berfungsi memperluas ruang bagi pertumbuhan daun sehingga mendapat lebih banyak cahaya matahari dan juga menekan tumbuhan pesaing di sekitarnya. Batang diliputi dengan kulit yang melindungi batang dari kerusakan.
Diameter pohon merupakan salah satu parameter pohon yang mudah untuk diukur. Dengan pengukuran diameter kita dapat mengetahui potensi tegakan suatu komunitas hutan. Besarnya diameter pohon dipengaruhi kualitas tempat tumbuh dan usia dari pohon tersebut. Semakin subur tempat tumbuh maka pertumbuhan pohon akan semakin baik, hal ini ditunjukkan dengan besarnya ukuran diameter pohon tersebut. Demikian pula pengaruh usia pohon dengan ukuran diameter pohon, semakin tua umur pohon maka diameternya akan lebih besar.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang dari pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian diameter pohon?
2.      Bagaimana cara pengukuran diameter pohon?
3.      Apa saja alat ukur yang digunakan dalam pengukuran diameter pohon?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan berdasarkan latar belakang dari pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian diameter pohon.
2.      Untuk mengetahui cara pengukuran diameter pohon.
3.      Untuk mengetahui alat ukur yang digunakan dalam pengukuran diameter pohon.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Diameter Pohon
Diameter atau keliling merupakan salah satu dimensi batang (pohon) yang sangat menentukan luas penampang lintang batang pohon saat berdiri atau berupa kayu bulat. Diameter batang merupakan garis lurus yang menghubungkan dua titik ditepi batang dan melalui sumbu batang. Lingkaran batang merupakan panjang garis busur yang melingkar batang (Huang, 2000).

Pengukuran diameter atau keliling batang setinggi dada dari permukaan tanah disepakati, tetapi setinggi dada untuk setiap bangsa punya kesepakatan masing-masing yang disesuaikan dengan tinggi rata-rata dada masyarakat bangsa itu. Setinggi dada untuk pengukuran kayu berdiri di Indonesia disepakati setinggi 1,30 meter dari permukaan tanah (Huang, 2000).
1.      Kondisi Pohon Berdiri
Ketentuan pengukuran diameter atau keliling setinggi1,30 m didasarkan untuk pohon berdiri tegak pada permukaan tanah yang relatif datar. Jika pohon berdiri miring, maka letak pengukurannya (Lpd) dilakukan pada bagian miring batang disebelah atasnya (Gambar b), sejauh1,30 m dari permukaan tanah. Sedangkan untuk pohon berdiri tegak pada permukaan tanah yang cukup miring (lereng) dapat dilakukan dua cara seperti disajikan pada Gambar c (Adame, 2008).

2.      Kondisi Pohon Berbanir
Jika batas ujung banir (Bub) kurang dari 110 cm, maka pengukurannya dilakukan setinggi 1,30 m dari permukaan tanah. Jika BuB tepat setinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm diatas banir (Gambar b). Jadi Lpd-nya setinggi 1,30m dari permukaan tanah. Jika BuB-nya lebih tinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm diatas banir (Gambar c). Jadi letak pengukurannya setinggi (Bub+ 20 cm) (Adame, 2008).

3.      Bentuk Batang (Batang Cacat)
Jika setinggi 110 cm melebihi Bbc, maka letak pengukurannya (Lpd) setinggi (Bac + 20) cm (Gambar a). Jika Bbc lebih tinggi dari 110 cm, maka letak pengukurannya setinggi (Bbc – 20) cm (Gambar b). Jika bagian tengah cacat lebih kurang setinggi 1,30 m dari permukaan tanah (Gambar c), maka pengukurannya dilakukan setinggi Bbc (Lpd2)  dan Bac (Lpd1). Sehingga hasil ukurannya (diameter atau keliling) adalah ukuran (Lpd1+ Lpd2)/2 (Adame, 2008).

4.      Batang Bercabang atau Menggarpu
Jika tinggi percabangan melebihi 1,30 m (Gambar a), maka pengukuran dilakukan tetap setinggi 1,30 m dari permukaan tanah. Jika tinggi cagak kurang dari 1,10 m, maka Lpd-nya dilakukan pada kedua batang setinggi 1,30 m (Husch, 2003).

5.      Pohon Lahan Basah (Rawa, Payau)
Untuk jenis Bruguiera spp yang dijadikan awal pengukuran bukan daripermukaan tanah, tapi pada bagian akarnya (Gambar a). Letak pengukurannya setinggi 1,30 m. Untuk jenis Ceriopsspp yang dijadikan awal pengukuran pada bagian akar yang berbatasan dengan air (Gambar b). Disamping adanya bagian-bagian akar yang berupa banir, maka ditinjau dulu berapa tinggi banir tersebut. Jika tinggi banir tersebut kurang dari 1,30 m, maka letak pengukuran dilakukan setinggi 1,30 m dari batas bagian akar yang kena air. Untuk jenis Rhizophora spp dilakukan pengukuran setinggi 20 cm dari ujung bagian akar teratas (Gambar c) (Loetsch, 1964).

B.     Pengukuran Diameter
Diameter merupakan dimensi pohon yang sangat penting dalam pendugaan potensi pohon dan tegakan.  Data diameter diperlukan antara lain untuk : penentuan lbds pohon dan tegakan, penentuan volume pohon dan tegakan, pengaturan penebangan dengan batas diameter tertentu (misal : dalam TPTI minimal 50 cm), serta untuk mengetahui struktur tegakan (Newton, 2007).
Pengukuran diameter pohon pada dasarnya merupakan pengukuran panjang garis antara dua titik   pada garis lingkaran batang pohon yang melalui titik pusat lingkaran batang pohon  tersebut.  Untuk keseragaman pengukuran, telah ditetapkan ketentuan pengukuran diameter pohon antara lain sebagai berikut (Newton, 2007):
1.      Pada pohon yang tumbuh normal, diameter diukur pada ketinggian 1,3 m di atas tanah (dat), yang   disebut sebagai “diameter setinggi dada (diameter at breast height)”.
2.      Untuk pohon yang memiliki cabang di atas 1,3 m dat, diameter pohon diukur pada ketinggian 1,3 m dat dan dianggap sebagai 1 pohon.
3.      Untuk pohon yang memiliki cabang di bawah 1,3 m dat, diameter kedua cabang diukur pada ketinggian 1,3 m dat dan dianggap 2 pohon.
4.      Untuk pohon yang memiliki cabang tepat pada ketinggian 1,3 m dat, diameter pohon diukur pada ketinggian 1,3 m dat dan dianggap 1 pohon.
5.      Untuk pohon yang memiliki banir di atas 1,3 m dat, diameter pohon diukur pada ketinggian 20 cm di atas banir.

Berdasarkan data diameter pohon tersebut, selanjutnya dapat ditentukan pula luas bidang dasar (lbds) dari pohon tersebut.  Luas bidang dasar merupakan luas penampang lintang batang pohon dengan asumsi bahwa penampang lintang batang pohon tersebut berbentuk lingkaran.  Dengan demikian, lbds (dalam m2) pohon dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Newton, 2007):
V = 1/4.Ï€d2

1.      Pengukuran Diameter Setinggi Dada (Diameter at Breast Height, DBH)
Diameter adalah panjang garis lurus antara dua titik pada lingkaran yg melalui titik pusat. Hubungannya dengan keliling: d = k/Ï€. Untuk pohon berdiri, diameter diukur pada “setinggi dada” (diameter at breast height, dbh) (Simon, 2007):
a.       Di negara yang menggunakan sistem metrik (seperti Indonesia, Belanda, Jerman, dsb.), dbh = 1,30 m dpt.
b.      Di Amerika, Kanada dan India, dbh = 4,5 feet (1,37 m)
c.       Di Belgia dan Filipina, dbh = 1,50 m
d.      Di Inggris, dbh = 1,32 m

Keuntungan pengukuran diameter dalam mengukur pada “setinggi dada” (Diameter at Breast Height, DBH), untuk pohon berdiri, yaitu (Simon, 2007):
           Pengukuran mudah dilakukan (nyaman)
           Pada umumnya bebas dari banir
           Memiliki korelasi yang cukup erat dengan dimensi pohon lainnya (seperti tinggi, volume, biomassa, dsb.)

2.      Keadaan Pengukuran Diameter Pohon
Diameter dapat diukur dalam berbagai keadaan, diantaranya terbagi atas dua keadaan, yaitu (Simon, 2007):
a.       Di luar kulit (Diameter Outside Bark, DOB)
b.      Di dalam kulit (Diameter Inside Bark, DIB), dimana ditetapkan bahwa
DIB           = DOB – 2t
t                 = tebal kulit

3.      Kegunaan Data Diameter
Adapun kegunaan dari data diameter yang telah diperoleh dari pengukuran pohon, yaitu (Vanclay, 1994):
a.       Menghitung luas bidang dasar (lbds), dan volume pohon
b.      Sebagai penduga dimensi pohon/tegakan lainnya (seperti tinggi, volume, biomassa), dimana Y = f(D)
c.       Pengaturan penebangan pohon dengan batas diameter tertentu (misal : dalam TPTI minimal 50 cm)
d.      Mengetahui struktur (horizontal) tegakan

C.    Alat Ukur Diameter
Bentuk pisik (Bp) pita ukur berupa pita yang mempunyai skala (satuan ukur). Satuan ukur yang digunakan adalah cm dengan satuan ukur terkecil dalam mm. Pita ukur dapat berupa pita keliling atau pita diameter (phi band). Pita ukur dililitkan kebatang pohon setinggi 1,30 m hasil ukurannya adalah keliling jika menggunakan pita keliling dan jika menggunakan pita diameter maka hasil ukurannya adalah diameter. Skala ukuran pita diameter adalah d  =  k / Ï€  konversi dari     k = Ï€ . d (Vanclay, 1994).

1.      Caliper (apitan pohon)
Dapat digunakan utk pohon berdiri dan rebah, dimana pengukuran sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada diameter terkecil dan diameter tegak lurus padanya, kemudian dambil nilai rata-rata-nya (Loetsch, 1964).
        Keunggulan alat:
a.       Pengukuran relatif cepat
b.      Pembacaan skala mudah
c.       Secara teoritis tidak berbias
d.      Ketelitian cukup baik (2 kali pengukuran)
        Kelemahan alat:
a.       Kurang praktis dibawa karena alat cukup besar
b.      Diameter pohon yang diukur dibatasi skala alat.
c.       Jika tangkai kotor/berkarat, akan sulit menggerakkan kakinya.


2.      Pita Ukur
Pita ukur terbagi atas dua macam, yaitu pita keliling dan pita diameter, dimana pita keliling skala yang ditunjukkan adalah keliling (k) dan pita diameter (phi-band) skala yang ditunjukkan adalah diameter dengan rumus yang digunakan, yaitu (Loetsch, 1964):
d = k/Ï€
        Keunggulan alat:
a.       Ringan dan mudah dibawa
b.      Ketelitian hasil pengukuran cukup baik     
c.       Pengukuran cukup satu kali
        Kelemahan alat:
a.       Hasil pengukuran cenderung bias dan “overestimate” terutama apabila: batang   tidak silindris, pita terlipat/ melintir, posisi alat miring terhadap sumbu batang.
b.      Pengukuran memerlukan waktu relatif lama
c.       Sulit digunakan untuk pohon yang rebah
           
3.      Biltmore Stick
Biltmore stick berbentuk mistar berskala (panjang 60 – 90 cm) yang dibuat dengan prinsip “segitiga sebangun”, dengan rumus (Loetsch, 1964):
S = {D²L/(D+L)}½
        Kelebihan alat:
a.       Pengukuran tidak perlu waktu lama
b.      Pembacaan skala relatif mudah
c.       Alat ringan dan mudah dibuat
        Kekurangan alat:
a.       Kurang teliti (hanya cocok untuk mengukur kelas diameter)
b.      Sulit digunakan untuk pohon berdiameter besar
c.       Jarak pandang seringkali menjadi kendala dalam memperoleh hasil pengukuran yang telit.

4.      Garpu Pohon
Garpu pohon ialah alat ukur diameter pohon dimana penggunaannya hanya cocok untuk mengukur kelas diameter (Loetsch, 1964).
        Kelebihan alat:
a.       Praktis penggunaannya
b.      Sangat cocok digunakan untuk pembuatan tabel distribusi diameter pohon
c.       Cocok untuk pengukuran pohon-pohon berdiameter kecil
        Kelemahan alat:
a.       Sulit digunakan untuk pohon berdiameter besar    
b.      Pengukuran harus dilakukan lebih dari 1 kali
c.       Alat cukup besar dan berat sehingga kurang praktis untuk dibawa-bawa
d.      Tidak dapat digunakan untuk pengukuran diameter yang memerlukan ketelitian tinggi











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut:
1.      Diameter batang merupakan garis lurus yang menghubungkan dua titik ditepi batang dan melalui sumbu batang. Lingkaran batang merupakan panjang garis busur yang melingkar batang.
2.      Pengukuran diameter atau keliling batang setinggi dada dari permukaan tanah disepakati, tetapi setinggi dada untuk setiap bangsa punya kesepakatan masing-masing yang disesuaikan dengan tinggi rata-rata dada masyarakat bangsa itu. Setinggi dada untuk pengukuran kayu berdiri di Indonesia disepakati setinggi 1,30 meter dari permukaan tanah
3.      Alat-alat untuk mengukur diameter pohon, yaitu caliper (apitan pohon), pita ukur, Biltmore stick, garpu pohon.

B.     Saran
Adapun saran yang diperoleh ialah agar dalam pengukuran diameter pohon dapat dilakukan dengan teliti dan sesuai dengan ketentuan yang ada, dan menggunakan alat-alat yang ada dengan kegunaannya.


DAFTAR PUSTAKA

Adame, P., del Río, M., and Cañellas, I. 2008. A mixed nonlinear height-diameter model for pyrenean oak (Quercus pyrenaica Willd.). Forest Ecology and Management 256, 88-98.
Huang, S., Price, D., and Titus, S.J. 2000. Development of ecoregion-based height-diameter models for white spruce in boreal forests. Forest Ecology and Management 129, 125-141.
Husch B, Beers T, Kershaw JA. 2003. Fores Mensuration. New Jersey. Jhon wiley and Son.
Loetsch dan Haller, 1964. Pengukuran Volume Pohon. erlangga.jakarta
Newton, P. F., and Amponsah, I. G. 2007. Comparative Evaluation of Five Height-Diameter Models Developed For Black Spruce And Jack Pine Stand-Types In Terms of Goodness-of-Fit, Lack-of-Fit And Predictive Ability. Forest Ecology and Management 247, 149-166.
Simon, 2007. Metode Inventore Hutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Vanclay, J.K. 1994. Modelling Forest Growth and Yield, Applications to Mixed Tropical Forests. CAB INTERNATIONAL, Wallingford. UK.

Author Name

{picture#http://img09.deviantart.net/8f2d/i/2016/120/e/1/koutetsujou_no_kabaneri__ikoma_by_reijr-da0twud.jpg} I was a blogger who likes to divide the resources that I know to the visitors, and particularly liked the field of technology, design, health and forestry science. {facebook#https://web.facebook.com/icuk.sugiarto.507} {twitter#https://twitter.com/icuksugiarto_sa} {google#https://plus.google.com/u/0/+IcukSugiarto18} {pinterest#https://pinterest.com} {youtube#https://youtube.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.